Warga Dua Desa di Matim, "Indonesia Sudah 75 Tahun Merdeka, Kami Belum Menikmatinya"


Manggarai Timur/NTT, Jendelaindo ,— Desa Ruan dan  Desa Pong Ruan, kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur hingga saat ini  belum dialiri listrik. Sementara kedua Desa itu tidak jauh dari Ibu Kota kabupaten Manggarai Timur. Kedua Desa itu terletak tepat pada daerah perbatasan Ibu kota kabupaten Manggarai Timur , Borong.


Bukan hanya jaringan listrik, jalan menuju kedua desa itu terpantau mengalami rusak parah. Data yang dihimpun media ini, jalan masuk menuju dua desa itu terakhir kali diperhatikan pemerintah saat Kabupaten Manggarai Timur belum dibentuk. 


Elsi Susanati (37) Warga Dusun Pau, Desa Ruan kepada media ini mengatakan kami sangat sedih dengan keadaan desa kami saat ini. Sudah lama kami merindukan listrik dan jalan yang bagus seperti Desa-Desa lain di Manggarai Timur, ungkap dia. Rabu/07/10/2020



"sebagai warga desa ruan, saya merasa sedih sekali. Negara kita sudah 75 tahun merdeka. Akan tetapi, kami warga Desa Ruan yang juga merupakan warga negara Indonesia belum menikmati kemerdekaan itu terutama dengan penerangan listrik dan jalan,"Ungkapnya seraya memohon kepada pemerintah agar segera memperhatikan desa itu.


Beberapa waktu lalu Kepala Desa Ruan, Sebastianus Jangga pernah melakukan sosialisasi kepada masyarakat supaya mendapatkan dukungan dalam rangka menjemput kehadiran listrik di desa itu, tandasnya lanjut


"Mendengar hal itu kami sebagai masyarakat sangat antusias. Bahkan sebagian masyarakat yang sudah menebang pohon yang ada di halaman rumah. Karena pihaknya mendapat kabar gembira dari Kepala Desa bahwa tahun 2019 lalu listrik sudah masuk. Tapi kenyataannya sampai saat ini belum terealisasi,"Ujarnya lagi.


Kami di Desa Ruan sangat membutuhkan kehadiran listrik dan jalan yang bagus sebagaimana seperti desa-desa lain yang ada di Kabupaten Manggarai Timur, tutur dia.


"Kasian anak-anak kami, pak. Setiap malam harus belajar di depan lampu pelita,"Tutupnya.


Adapun Florianus Makur (36) juga mengatakan hal yang sama. Mewakili masyarakat di desanya, Florianus mengatakan, pihaknya sangat membutuhkan sentuhan pembangunan jalan dan listrik di desa itu.


"Saya miris melihat dengan desa-desa lain di Matim ini. Desa saya  bukan daerah pedalaman. Secara geografis, desa ruan ini berbatasan langsung dengan ibu kota kabupaten, tetapi tidak diperhatikan. Sementara desa-desa lain yang notabene jauh dari ibu kota diperhatikan,"Kesal Florianus.


Dikatakan Florianus, hingga kini desa ruan belum menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya. Pasalnya, sejak awal pembentukan desa itu belum diperhatikan pemerintah khususnya bagian penerangan. Dimana peran Lembaga peran wakil rakyat (DPRD) yang kami utus, ungkap florianus


Terpisah, Sebastianus Jangga (41) kepala Desa Ruan, kepada media ini mengatakan pada tahun 2018 lalu pihaknya pernah menerima surat dari PLN terkait perluasan jaringan listrik ke desa-desa yang dikerjakan 2019.


"Selaku pihak pemerintah desa waktu itu saya mengapresiasi terlebih khusus kepada pemerintah daerah dan juga pihak PLN provinsi,"Ujar Sebastianus, Rabu (07/10/2020) Siang.


Sebastianus mengatakan bahwa perihal surat masuk yang sampaikan warga itu benar. Pada tahun 2018 lalu saya menerima surat masuk dari PLN terkait perluasan wilayah penerangan dan kami selaku pemdes sudah melakukan sosialisasi dengan masyarakat. Dan bahkan menyikapi hal itu pun warga saya berinisiatif untuk pembebasan lahan tanpa menunggu pihak PLN, tandas sebastianus


Tetapi sayang, apa yang dilakukan Sebastianus hanya sia-sia. Pasalnya hingga saat ini, di desa itu belum dialiri listrik. Padahal dalam surat masuk yang Ia terima tahun 2018 lalu dijelaskan bahwa tahun 2019 akan ada perluasan jaringan ke desanya itu. Ia pun mengaku kecewa dengan Pemda Matim dan pihak PLN.


"Di desa Ruan ada sekitar 750  Kepala Keluarga (KK) sangat membutuhkan penerangan. Saya sangat kecewa dengan Pemda Matim dan pihak PLN,"Tandasnya.


"Saya hanya berharap, pihak PLN dan Pemda peduli dan peka melihat kondisi kami saat ini. Dan dalam waktu dekat, program "Indonesia Terang" masuk di Desa kami," tutup dia


"Kami selaku Pemerintah Desa selama ini mendapat caci makian dari masyarakat. Hal ini dampak dari sosialisasi yang kami berikan berdasarkan surat masuk dari PLN. Kami dinilai penipu oleh Masyarakat,"Ujarnya lagi.


Hal yang sama dikatakan Kades Sebastianus, Kepala Desa Pong Ruan, Dosansianus Tasman Lewagan (36). 

Tasman mengaku pihaknya juga pernah mengalami hal serupa. Ada surat masuk dari PLN yang isinya tentang perluasan jaringan ke desa-desa. Menanggapi surat itu, pihaknya (pemdes) melakukan sosialisasi kepada masyarakat.


"Di desa saya ada tiga dusun. Satu dusunya sudah dialiri listrik. Sementara dua lainnya hingga kini belum dialiri listrik,"Ujarnya.


Dikatakannya, di dua dusun yang belum dialiri listrik itu terdapat 600 Kepala Keluarga (KK) calon pelanggan PLN. 


Tasman juga mengakui bahwa di tahun 2018 lalu, dirinya sempat mendatangi kantor PLN Ruteng. 


"Setibanya disana saya bertemu petugas bidangi listrik di pedesaan, namanya mas Bagus. Mas bagus bilang realisasinya tahuh 2019 lalu. Kami menunggu itu sdah 1 tahun lebih tapi hingga hari ini belum ada tanda-tanda baik,"Katanya.


Tasman hanya berharap agar apa yang sudah dijanjikan pemerintah dan juga pihak PLN untuk melakukan perluasan jaringan listrik di Desanya dapat terealisasi secepatnya.


Wartawan : Iren Antus

Lebih baru Lebih lama