Kemala dan Bunga Matahari di Kepalanya


Cerpen, Jendelaindo - Gerimis merutuki salahnya. Senada dengan angin yang menyapanya ramah. Gadis berkepang dua itu berjalan menunduk. Menghitung bunga matahari di dalam bulir tangis langit yang kian meringkuk. 

Sepeninggal dari perempuan yang rahimnya pernah jadi rumah sembilan bulan, ia tak pernah bosan. Terus mencari dan memberi. Memberi dan mencari. Apa-apa yang membuatnya memiliki selimut lebih tebal dari kotak kesepian dan kesedihan. Dialah Kemala.

Secarik kertas yang sedari tadi dilihatnya, segera dilipat kembali. Memasukkan di saku jaketnya warna navy. Mengayunkan langkah. Menuju tempat kata dunia paling ramah. Bernama “rumah.”

"Assa.... "

"Kemana aja? Hah? Malam gini baru pulang?"

Belum tuntas salam, seorang perempuan empat puluh tahunan itu memotong suara Kemala. Ditariknya lengan Kemala begitu cepat. Mendudukkannya pada ingatan bernama "Manut"

"Besok ada laki-laki datang ke rumah, bersikaplah yang ayu."

Kemala tak meededulikannya. Ia segera melepas jaket dan masuk ke kamarnya.

"Dasar, anak gak manutan!" gerutu Budenya.

**

6 November 2018
Tasyakuran bersama anak-anak yatim Panti Asuhan "Cahaya Kasih"

Tertegun Kemala memandangi catatan hariannya itu. Besok adalah tanggal berharga baginya. Ia masih jadi pengingat yang baik akan kenangan. Karena ia yakin dengan mengingat dan merawatnya, dapat membaik.

"Aku harus tidur lebih cepat. Besok gaboleh telat," desirnya.

"Kemala!! Bude belum selesai bicara!!"

Dari balik pintu kamarnya, Budenya berdialog percuma. Karena dengan pintulah ia bicara. Mungkin juga dengan dinding dan peralatan antik di meja depannya.

**

"Terimakasih, Kak Kemala. Sudah menghibur kami," salah seorang anak memeluk Kemala.

"Kak Kemala puisinya bagus tadi. Aku mau baca puisi kayak Kak Kemala," timpa salah seorang anak lainnya.

"Besok Kak Kemala kesini lagi kan?" Bersusulan anak-anak itu sambil memeluk Kemala.

Ada perasaan haru tak terkira di raut wajahnya. Sebuah masa yang mengantarnya kepada pilihan lain. Hari itu adalah bahagia dan alpa, atau mungkin alpa dan bahagia. Tapi senyum dan sikapnya selalu menanamkan kelembutan, kepada siapa saja yang mampu membacanya.

"Kalian belajar yang rajin yah, biar jadi cahaya," peluk cium Kemala pada anak-anak.

"Kenapa harus jadi cahaya, Kak?" 

"Aku maunya jadi Guru! Biar bisa galakin anak-anaknya," celetuk salah seorang anak.

"Nah, itu. Guru yang baik menuntun menuju cahaya, bukan menakuti dengan cahaya."

**

Gerimis merutuki salahnya. Kembali dengan angin yang menyapanya lebih ramah. Namun tidak dengan langkahnya.

Air mata yang hendak turun dari ekor matanya, ditahannya segera. Ibunya pernah berpesan 

"Yang berharga di dunia ini setelah mata air adalah air mata."

"Assa ...."

Belum sampai salam terselaikan, Budenya sudah menghadang di ujung pintu. Seolah membawa berbagai serdadu. Siap menyerbu. Sorot matanya tak lagi memandang kasih.

"Sudah berapa kali Bude bilang? Jangan pulang hujan-hujanan!! Ini juga hampir malam! Kalau ada apa-apa gimana. Hah? Susah banget manut sih? Mau jadi apa kamu, hah?"

"Mau jadi bunga matahari," desir hatinya.

"Kenapa diem? Hah? Sudah gabisa bicara? Kalau gak ada Bude kamu mau tinggal sama siapa?"

"Kemala capek. Mau ke kamar," Kemala melepas cengkraman tangan Budenya. Segera mengayunkan langkah menuju kamarnya.

Dengan terisak, ia membuka kertas di saku jaketnya.

 Untuk perempuan yang rahimnya pernah jadi rumah pertama dan ternyaman.

 _Hari ini ulang tahun Ibu, yang ke empat puluh satu. Ibu baik-baik saja, kan? Kemala rindu. Sangat rindu. Kemala tau belum jadi anak yang baik buat Ibu. Tapi Kemala ingat selalu pesan Ibu. Untuk selalu datang dan menghibur di panti itu. Sekarang Kemala tau. Tidak ada kebahagiaan di dunia ini. Yang ada membahagiakan. Ibu ingin Kemala selalu membahagiakan mereka kan? Kemala sudah berusaha manut, Bu. Tapi, Bude? Aku tak tau._ 

 _Dari anakmu yang ingin jadi matahari._ 

 _Kemala Hayati._ 

Ana Oshibana
Lebih baru Lebih lama