Perempuan yang Memesan Matahari di Wajahnya


Cerpen, Jendelaindo - Akan kutulis kisah ini dalam seperempat jam. Tentang perempuan yang menunggu kuning di halaman matanya. Dan tentang seseorang lain yang menitip kuning di balik meja.

Perempuan itu berkunjung di kedai kopi. Kedai kopi yang tak sekadar menyediakan kopi dan makanan lainnya. Namun, menyediakan berbagai wajah di etalasenya. Matanya melihat sekitarnya. Rok plisket navy dan sweater hitam bermotif matahari membalut tubuhnya yang kurus tinggi. 

Ia mencari-mencari wajah di etalase dekat barisan kopi.
Seorang barista bertopi mulai memerhatikannya. Matanya lebih jeli mencoba menebak isi kepala perempuan di depannya. Namun, lagi-lagi ia melakukan hal sia-sia. Bukankah hal paling sia-sia adalah menebak isi kepala seorang wanita? Barista bertopi itu menanyakannya. Mencoba masuk di halaman pikirannya.

"Mau pesan kopi apa, Nona? Coffe latte bercorak daun agaknya pas untuk Nona," tuturnya lembut. Berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang nampak sangar.

Perempuan dengan kuning di matanya itu tersenyum. Lebih tepatnya hanya sedikit tersenyum. Tak menjawab sepatah katapun.

Barista bertopi itu mencoba kembali mengetuk halaman kepalanya.

"Atau mau makan cemilan yang pas? Suka kentang goreng, Nona? Disini banyak yang suka kentang goreng. Karena kami olah sendiri."

Lagi, Perempuan itu diam. Namun, matanya masih memerhatikan sesuatu di depannya. Barisan kopi dan berbagai wajah di sekitarnya.

Setelah beberapa menit, ia mengeluarkan kata juga akhirnya.

"Aku mau pesan wajah matahari."

"Bukannya ini sudah hampir senja, Nona? Kenapa tak melihat langsung matahari? Atau karena takut kehilangan nanti?"

"Tak apa. Hanya ingin memesannya saja. Tolong, ya."

Barista itu belum berhasil masuk ke halaman kepala perempuan itu.

"Saya di meja nomor tujuh dekat dengan rak buku di sana. Tolong, ya. Terima kasih."

"Siap, Nona. Ditunggu ya."

Ia segera duduk. Dekat dengan rak buku, tapi ia tak membaca.
Matanya mengisyaratkan seperti sedang menunggu seseorang di sana. Namun, entah apa yang ditunggu. Bukankah makna menunggu bukan untuk ditanya apa yang ditunggu?

Beberapa menit kemudian, Barista itu datang.

"Maaf, ini pesanannya, Nona. Sebuah wajah matahari."

"Saya antar langsung, bukan oleh pelayan."

"Kenapa?"

"Saya penasaran dengan Nona."

"Boleh saya bertanya?"

"Silakan."

"Saya perhatikan Nona beberapa kali kesini dan kata salah seorang pelayan yang biasa melayani, Nona selalu memesan matahari."

"Ehm, memang tidak ingat atau baru ingat saya selalu kesini dan memesan matahari?"

"Mungkin saya yang baru menyadari."

"Ehm, baiklah. Tak mengapa."

"Jadi?"

"Hum? Jadi apa?" perempuan itu heran dengan Barista bertopi itu.

"Jadi, apa alasan Nona memesan matahari? Banyak orang lain lebih suka menanti senja, berfoto dengannya, dan mengabadikannya. Sementara Nona? Datang pas senja dan memesan matahari di sini? Bukannya itu aneh?"

Perempuan itu tersenyum. Matanya seperti melihat sesuatu di belakang Barista itu.

"Jawabannya karena seseorang di belakangmu."

Barista itu langsung menengok ke belakang.

"Hah? Tidak ada siapa-siapa di belakang saya. Maksudnya?"

"Hanya karena kamu mungkin belum melihatnya."

"Saya makin bingung."

"Maaf, saya mau menikmati matahari pesanannya dulu. Boleh biarkan saya sendiri?"

"Oh iya, maaf sudah mengganggu. Silakan, Nona."

***
Barista itu kembali dengan ribuan tanya di kepalanya. Kenapa pula ia menebak-nebak isi kepala wanita? Padahal, Perempuan itu bukan siapa-siapa? Ia kembali melayani berbagai pesanan dibalik meja kerjanya.

Perempuan itu melihat pesanannya. Sebuah matahari dengan kuning yang sempurna. Sedikit demi sedikit diijinkan masuk ke ingatannya. Seperti sebuah angin yang meninabobokan angan dan ingin. Selintas, daun-daun turut menaburkan sejuk di antaranya.

Waktu bergulir dengan pasti. Meski katanya satu-satunya hal pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Kecuali kematian yang datang tanpa permisi. Sebelas menit ia menikmati matahari pesanannya. 

Perempuan itu masih duduk manis di depan rak buku di sana. Sampai menit ketiga puluh dua, perempuan itu berdiri. Meninggalkan kuning matahari di meja tepat di depan rak buku itu. Meja nomor tujuh.

"Saya sudah selesai. Berapa totalnya?" Ia bertanya ke Barista yang cekatan membuat kopi.

"Ouh sudah selesai. Sebentar ya, Nona."

Setelah coffe latte bikinannya selesai, Barista itu bertanya.

"Benar sudah selesai?"

"Memang ada yang benar-benar selesai?"

"Hum, aku selalu kalah di depanmu."

"Apa?"

"Ouh tidak mengapa. Saya hanya masih penasaran. Kenapa memesan matahari di sore hari begini? Kenapa tidak seperti lainnya yang memilih berfoto dan mengabadikannya?"

Perempuan itu terdiam sejenak. Ia seolah masuk di halaman ingatannya dan mengambil sesuatu.

"Kamu baik-baik saja?" Barista itu bertanya lembut. Tak menyadari percakapannya berganti dari Nona ke kamu.
Perempuan itu malah tersenyum sebentar. Dan mengatakan hal yang sama sekali tak diduga Barista bertopi itu.

"Seratus tiga puluh satu hari, seseorang pernah menaruh hal berharga di meja itu. Meja nomor tujud dibalik rak buku." Perempuan itu mengarahkan matanya di meja tempat ia duduk semula.

"Hum? Apa?"

"Katanya, ia akan selalu membaca kembali matahari dibalik meja dan rak buku itu. Tepat di sore hari ketika matahari berpulang ke peraduannya."
Barista itu semakin menyimak setiap tuturnya.

"Lalu? Bukannya kamu sendirian di sana? Apakah itu seseorang yang tadi kamu bilang di belakangku?"

"Ya. Kamu hanya belum melihatnya. Atau melihatnya, tapi tak sengaja mengingatnya. Karena melihat belum tentu mengingat. Sedangkan mengingat, seringkali hanya pekerjaan orang-orang yang berani kehilangan."

"Kamu merindukan seseorangkah di sana? Boleh saya tahu?"

Perempuan itu kembali tersenyum. 

"Seseorang itu dekat sekali. Amat sangat dekat saat aku duduk di sana. Aku seperti mendengarkan matanya yang menceritakan berbagai kisah indah. Telinganya yang mampu melihat apa yang jarang orang melihatnya."

"Meja itu seperti perantara ia menceritakan berbagai perjalananya melukis wajah matahari."

"Ia selalu bilang ingin selalu membaca matahari di wajah perempuan. Katanya, perempuan-perempuan kuat hampir selalu  pandai memakai matahari di wajahnya. Ia sangat kagum dengan kekuatan perempuan berwajah matahari."

"Mungkin, sebab itu aku selalu memesan wajah matahari dan menikmati di meja itu."

"Aku ingin selalu mengingat semangatnya menopang perempuan yang lemah di jalanan, ceritanya tentang melatih membaca anak-anak perempuan yang terpaksa mengamen di jalanan, pun anak yatim yang selalu ia kasihi. Berbagai hal yang ia sebut perempuan berwajah matahari."

"Kebahagiannya adalah membahagiakan orang lain. Terutama kepeduliannya pada perempuan di luar sana yang kesusahan. Tentu, ia pun berharap aku selalu berusaha menjadi perempuan berwajah matahari. Datangnya membawa terang, perginya menghangatkan tenang."

"Sejuk. Aku seperti berada di bawah pohon teduh. Boleh tau siapa seseorang itu? Dia aktiviskah? Mahasiswa jurusan hukumkah? Atau siapa?"

Dengan sedikit menunduk, perempuan bersweater hitam itu menjawab.

"Dia seorang laki-laki yang mencintai sastra dan kepedulian. Dan tentu seseorang yang selalu bahagia melihat perempuan berwajah matahari, dengan kebahagiaannya bisa memberi."

"Dimanakah seseorang itu? Apakah aku bisa menemuinya?"

"Dia sudah tiada. Meninggalkan kuning dimataku. Dan sastra di hatiku."

"Maaf, aku membuatmu sedih." 

Sepertinya, bulir mata mengalir dari perempuan itu. Namun, segera diusapnya. Ia tersenyum seketika. Menegakkan tubuhnya, seolah mengisyaratkan ia baik-baik saja.

"Tak apa. Raganya mungkin sudah tiada. Namun, semangatnya membuat wajah matahari di setiap wanita akan selalu kubaca dan tebarkan. Selagi aku mampu."

Barista itu tersenyum. Sayup, kuning di mata perempuan itu meneduhkan wajahnya. Tak lama, ia berpamit diri.

"Kamu sudah berwajah matahari. Teruslah seperti itu. Aku kagum padamu." Gumam Barista itu sembari menatap perempuan itu pergi.

"Mampukah aku jadi seseorang itu?" Kembali ia bergumam.


Kuning, 24 Oktober 2020

Ana Oshibana
Lebih baru Lebih lama