JENDELAINDO NEWS UPDATE // Pandangan Fraksi PAN : Pemkot Tegal Kurang Pengawasan Terhadap Perusahaan Nakal # Polres Metro Jakarta Pusat Bongkar Home Industry Ineks Palsu di Johar Baru # 41 Jenazah Korban Kebakaran Lapas Tangerang Teridentifikasi, Operasi DVI Polri Berakhir # APenyidik Evaluasi Bukti dan Keterangan Saksi Kebakaran Lapas Tangerang # Sindikat Skimming ATM, Pelaku Dua Orang WNA # DPD PDIP Laporkan Hersubeno ke Polda Metro Terkait Penyebaran Hoaks Megawati Koma # Komplotan Penggelapan 40 Mobil di Depok Berhasil Diamankan # Selain Kalapas, Penyidik Juga Periksa 6 Orang Terkait Kebakaran Lapas # Polda Metro Jaya Lakukan Pemeriksaan Terhadap Kalapas Tangerang # Polisi Bekuk 6 Pengeroyok Sekeluarga di Bekasi, Motifnya Utang Piutang # Ayu Ting Ting Dicecar 15 Pertanyaan Terkait Kasus Dugaan Penghinaan # Polda Metro Jaya Teliti Laporan Henry Yosodiningrat Soal Kabar Hoaks Megawati Wafat # Densus 88 Antiteror Polri Dalami Informasi Teror dari Kemenlu Jepang # Swab Antigen Gratis Bagi CASN dan PPPK di Gayo Lues # Safari Ke Kota Banjar, Ridwan Kamil: Vaksinasi Disini Luar Biasa Tertinggi di Jawa Barat

Genjot Ekspor Tanaman Bunga Indonesia

 


Jendelaindonews - Festival bunga di Pasedena bernama Tournament of Rose (TOR) tentu bukanlah hal yang asing di telinga. Itu merupakan festival bunga terbesar di dunia. Di festival yang digelar rutin di kota pantai barat Amerika Serikat itu, Indonesia kerap kali hadir sebagai peserta. Tak hanya hadir, tim Indonesia sering mendapatkan apreasiasi dari keikutsertaannya.


Di festival TOR ke-125, misalnya, kendaraan hias tim Indonesia dengan tema 'Wonderful Indonesia: Paradise on Earth' menyabet penghargaan. Kendaraan hias berdesain komodo itu dilengkapi oleh penampilan tari-tarian khas Kalimantan Timur. Tak hanya di Pasadena, Indonesia juga pernah berpartisipasi di International Festival of Fruit and Flowers di Kota Ambato, Ekuador.


Seiring tren yang berkembang, festival bunga seringkali dijadikan sebagai media promosi budaya satu negara. Itulah sebabnya, beberapa negara menggelar acara serupa demi mempromosikan negaranya dan menggenjot pendapatan dari sektor pariwisata.


Di Jepang, misalnya, ada sekitar 11 kegiatan semacam festival bunga. Yakni, Okinawa Orchid Show yang diselenggarakan pada Februari setiap tahunnya. Lalu ada pula Huis Ten Boch, Shinjuku Gyoen, Freesia Festival, Hiroshima Flower Festival, dan sebagainya.


Di Thailand juga setali tiga uang. Negeri Gajah Putih itu memiliki pula festival senada berjuluk Chiang Mai Flower Festival dan Flora Park Festival. Sementara itu, dari Benua Biru, Belanda dikenal dengan festival bunga Spring Garden Breezand, Flower Days, Tulpenfestival Noordostpolder, Tulp Festival. Negeri kincir Angin itu juga memiliki kebun bunga tulip yang selalu ramai dikunjungi wisatawan.


Kegiatan festival bunga hanyalah salah satu alat untuk promosi satu daerah atau negara guna menarik minat wisatawan untuk datang ke daerah atau negara tersebut. Bila wisatawan datang tentu pendapatan negara dari sektor pariwisata akan terkerek.


Model seperti itulah yang kini mulai diadopsi beberapa daerah di Indonesia. Di Jawa Timur, misalnya, kita mengenal Banyuwangi Festival yang rutin digelar setiap tahunnya. Begitu juga di Jember dengan Jember Fashion Carnaval.


Khusus festival bunga, baru Tomohon, satu kota di Sulawesi Utara, yang memiliki festival bunga bertaraf internasional. Festival itu bernama Tomohon International Flower Festival. Tomohon sendiri memang dikenal sebagai kota bunga, selain Bandung dan Pagaralam, Sumatra Selatan.


Berbicara soal bunga, nyatanya komoditas itu bukan hanya dapat diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan festival. Bunga juga berfungsi sebagai penghias ruangan rumah, kantor, perhelatan acara pernikahan, acara perusahaan, dan lainnya.


Komoditas Potensial


Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki potensi besar dalam  mengembangkan komoditas yang sering disebut sebagai bagian cabang komoditas florikultura atau komoditas tanaman berbunga dan tanaman hias. Florikultura sendiri masuk dalam cabang holtikultura bersama sayuran.


Selain lahan dan cuacanya sangat memungkinkan, kekayaan hayati florikultura Indonesia sangat luar biasa. Artinya, negara ini memiliki peluang untuk mengembangkan komoditas itu menjadi peluang bisnis, baik baik untuk penyediaan kebutuhan dalam negeri maupun dunia.


Global market value tanaman hias mencapai nilai USD22,329 miliar, lebih tinggi dibandingkan kopi dan teh. Namun, sayangnya Indonesia baru memenuhi ceruk pasar dunia sebesar 0,1 persen.


Dalam satu kesempatan pelepasan ekspor florikultura dan benih sayuran di Bogor, Kamis (6/5/2021), Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengapresiasi pelepasan ekspor program florikultura dan benih sayuran. Dia juga mendorong agar Indonesia menggenjot bisnis komoditas itu sehingga bisa membantu mempercepat program pemerintah dalam upaya pencapaian pemulihan ekonomi nasional melalui peningkatan ekspor.


Selain ekspor tanaman hias, Indonesia juga mempunyai potensi besar dalam ekspor benih sayuran ke mancanegara. Hampir semua produk sayuran di Indonesia punya potensi pasar di luar terutama di Asean, seperti Malaysia dan Thailand.


Beberapa komoditas yang cukup banyak permintaannya, antara lain, kangkung, tomat, buncis, labu, dan kacang panjang. Namun permintaan ekspor lebih luas daripada segi produksi. “Ke depan untuk peningkatan ekspor florikultura dan benih sayuran bisa ditingkatkan kerja sama beberapa perusahaan benih di Indonesia untuk membuka pasar ekspor dan promosi bersama ke luar negeri dengan difasilitasi oleh pemerintah,” ujar Menko Airlangga.


Menurutnya, melalui pengembangan agribisnis tanaman hias dan benih sayuran ini tentunya akan menumbuhkan lapangan pekerjaan baru di setiap elemen rantai pasok, termasuk di dalamnya adalah pengembangan dan perbanyakan bibit berteknologi melalui kultur jaringan. “Selain itu, inovasi teknologi, pengembangan lahan produksi, standarisasi dan sertifikasi produk perlu ditingkatkan dan menjadi fokus utama,” tambahnya.


Menurut data Kemenko Perekonomian, secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari--Maret 2021 mencapai USD48,90 miliar atau meningkat 17,11 persen dibanding periode yang sama pada 2020.  Kinerja ekspor pada Maret 2021 mencapai USD18,35 miliar, yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan hampir melampaui posisi tertinggi sejak Agustus 2011 yang saat itu nilai ekspornya sebesar USD18,64 miliar.


“Sektor pertanian telah memberikan kontribusi positif sebesar 2,15 persen di bulan Maret. Ekspor pertanian secara kumulatif pada Januari--Maret 2021 sebesar USD1,05 miliar, mengalami kenaikan sebesar 14,29 persen terhadap periode yang sama pada 2020,” lanjut Airlangga.


Di sisi ekspor, nilai ekspor florikultura pada tiga tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Pada 2018 nilai ekspor sebesar USD12,07 juta, pada 2019 sebesar USD13,53 juta (naik 12,1 persen), dan pada 2020 naik cukup signifikan menjadi sebesar USD19,98 juta.


Dalam rangka pengembangan komoditas itu, Menko Airlangga Hartarto menyitir arahan Presiden Jokowi pada acara Jakarta Food Security Summit (JFSS) bahwa pelaku usaha perlu mengembangkan inisiasi closed loop, terutama dalam rangka pengembangan kemitraan dari hulu ke hilir. Kemitraan closed loop perlu untuk meningkatkan produktivitas.


Pemerintah akan terus memberikan dukungan kebijakan bagi pelaku usaha untuk melakukan ekspor. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Eximbank terus memberikan dorongan berupa bantuan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Berorientasi Ekspor bagi usaha berorientasi ekspor termasuk juga usaha rintisan ekspor dengan maksimal omzet sebesar Rp50 miliar.


“Saya ucapkan apresiasi dan selamat atas keberhasilan Menteri Pertanian yang terus mendorong ekspor florikultura dari Indonesia,” tutupnya.


Editor : Arief Ferdianto

Lebih baru Lebih lama