JENDELAINDO NEWS UPDATE // Pandangan Fraksi PAN : Pemkot Tegal Kurang Pengawasan Terhadap Perusahaan Nakal # Polres Metro Jakarta Pusat Bongkar Home Industry Ineks Palsu di Johar Baru # 41 Jenazah Korban Kebakaran Lapas Tangerang Teridentifikasi, Operasi DVI Polri Berakhir # APenyidik Evaluasi Bukti dan Keterangan Saksi Kebakaran Lapas Tangerang # Sindikat Skimming ATM, Pelaku Dua Orang WNA # DPD PDIP Laporkan Hersubeno ke Polda Metro Terkait Penyebaran Hoaks Megawati Koma # Komplotan Penggelapan 40 Mobil di Depok Berhasil Diamankan # Selain Kalapas, Penyidik Juga Periksa 6 Orang Terkait Kebakaran Lapas # Polda Metro Jaya Lakukan Pemeriksaan Terhadap Kalapas Tangerang # Polisi Bekuk 6 Pengeroyok Sekeluarga di Bekasi, Motifnya Utang Piutang # Ayu Ting Ting Dicecar 15 Pertanyaan Terkait Kasus Dugaan Penghinaan # Polda Metro Jaya Teliti Laporan Henry Yosodiningrat Soal Kabar Hoaks Megawati Wafat # Densus 88 Antiteror Polri Dalami Informasi Teror dari Kemenlu Jepang # Swab Antigen Gratis Bagi CASN dan PPPK di Gayo Lues # Safari Ke Kota Banjar, Ridwan Kamil: Vaksinasi Disini Luar Biasa Tertinggi di Jawa Barat

Ketua DPRD Matim, "TNI dan POLRI Akan Turun di Lokasi Pembebasan Lahan Desa Watu Mori"

Manggarai Timur,NTT,Jendelaindo - Ketua DPRD Matim, heremias Dupa S.I.Kom pantau lokasi jembatan wae musur Desa Watu Mori, kecamatan Rana Mese, kabupaten Manggarai Timur, NTT. Selasa/20/10/2020

Diketahui bangunanan jembatan itu dibuat tahun 2017 lalu dengan pagu anggaran Rp.7 M. Jembatan itu menghubungkan kampung Desa Watu Mori dan beberapa Desa sebelah Wae musur yang sering disebut Torok Golo. Dalam sejarah jembatan yang dibangun itu dulunya tempat barter ubi dengan ikan antara warga masyarakat sebelah Wae Musur (Masmur) dengan warga Borong.

Hingga saat ini jembatan itu tidak digunakan lantas ada 5 warga yang meminta kerugian kepada Pemda untuk Pembebasan Lahan.

Menyikapi hal itu, ketua DPRD Matim Heremias Dupa S.I.Kom, kepada media ini mengatakan pihaknya sangat kesal dengan warga yang dinilai menghambat roda pembangunan.

"Persoalan ini harus segera diselesaikan. Ibu Camat harus mengambil sikap. Ini kebutuhan banyak orang," tegas ketua DPRD matim sosok muda yang akrab disapa Heremias itu.

"Pihaknya meminta kepada camat, para Kepala Desa dan tokoh masyarakat untuk duduk bersama agar persoalan ini cepat selesai. Dengan duduk bersama pasti ada solusi," Heremias menambah

"Apabila dengan cara duduk bersama "lonto leok" masih belum ada solusi, nanti datangkan Polisi dan TNI untuk membantu menyelesaikan polemik ini," tandas Heremias

Heremias juga berharap masyarakat harus mendukung pembangunan yang diprogramkan oleh pemerintah melalui dinas PUPR. Apalagi wilayah sebelah Wae Musur ini tergolong daerah terisolir di Matim, tutup dia.

Senada dengan ketua DPRD Matim, Yos Marto, Kadis PUPR Matim kepada media ini mengatakan kita sudah berupaya bernegosiasi dengan camat dan masyarakat beberapa waktu lalu, ungkap Yos

"Dari awal kita sudah melakukan pendekatan dengan masyarakat. Namun ada 5 warga yang ngotot untuk ganti rugi kepada Pemda. Mana ada dana pembebasan lahan", tandas Yos lanjut.

"Apabila ke 5 warga itu rela memberikan lahannya, jembatan ini akan segera digunakan dan jalan pun mungkin akan di hotmit", tutup Yos.
 
Maria Anjelina Teme, camat Rana Mese mengatakan, memang camat sebelumnya tidak melakukan komunikasi yang intens kepada pemilik lahan sehingga timbul polemik, ungkap ibu Maria

Maria juga menuturkan bahwa pihaknya sudah pernah melakukan pendekatan dengan pemilik lahan, tandasnya

"Beberapa waktu lalu, kita sudah melakukan pendekatan. Warga sebenarnya belum paham dengan aturan terkait pembebasan lahan", dia menambah.

"Saya selaku Camat akan berupaya semaksimal mungkin agar persoalan ini cepat selesai. Yang tentunya dengan cara duduk bersama "Lonto Leok" dengan tokoh masyarakat dan pemilik lahan untuk mencari solusi", tutup dia

Wartawan : Iren Antus
Lebih baru Lebih lama