“SRG” Bantu Anak Belajar di Rumah Tanpa Kuota

Tegal,Jendelaindo - Speaker Robot Guru (SRG), sebuah alat audio yang di prakarsai oleh Abdullah Farid, warga Kalinyamat Kulon, Kecamatan Margadana dan Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ar Rahman Sumurpanggang menawarkan media belajar anak di rumah tanpa menggunakan gawai, telepon pintar dan  internet.

Media tersebut, menggunakan alat audio yang sudah diisi dengan tema-tema pembelajaran lengkap selama satu semester, untuk pelajar SD dan MI kelas IV, V dan VI.

Pemrakarsa alat tersebut, Abdullah Farid ditemui sesaat, setelah mengikuti Upacara Hari Amal Bakti ke-75, Kementerian Agama di Kantor Kementerian Agama Kota Tegal, Selasa (5/1) menyampaikan konten dalam SRG tersebut bisa dijadikan guru di rumah untuk anak-anak SD dan Madrasah Ibtidaiyah.

“Speaker Robot Guru (SRG) konten di dalamnya bisa dijadikan guru di rumah untuk anak-anak SD dan Madrasah Ibtidaiyah,” ujar Abdullah Farid.

Farid menceritakan alasan dari idenya tersebut berawal dari dilema anak-anak yang harus belajar dengan sistem daring dan tidak boleh tatap muka, sementara untuk bisa mengikuti pembelajaran dengan daring tersebut mereka dituntut untuk memiliki gawai dan jaringan internet.

Lebih jauh Ia menjelaskan bahwa tidak semua anak, memiliki fasilitas tersebut, seperti gawai dan internet, berangkat dari kondisi ini Ia memulai merealisasikan idenya dengan membuat SRG sebuah media belajar yang bisa dibawa anak di rumah, dengan harapan agar anak yang kurang mampu bisa mendapat pembelajaran yang hampir sama dengan anak-anak yang mampu.

Farid menjelaskan, secara teknis, alat tersebut menyediakan menu 11 item, materi belajar selama satu semester lengkap tematik untuk anak SD dan MI dari kelas IV, V dan VI, dengan audio belajar tersebut anak tinggal di rumah dan tinggal pencet pilihan yang ada di daftar menu, tema atau pelajaran apa yang akan di pelajari.

Ia menyampaikan saat ini sudah ada 50 unit yang sudah tersebar di beberapa daerah, dan sudah dikirimkan ke Nusa Tenggara Timur, ke Kota Endeh, Sambas di Kalimantan Barat, Kabupaten Serang dan Kabupaten Bogor, dan itu diserahkan secara gratis.

“Alhamdulillah sudah masuk beberapa donator, dan sudah dikirimkan ke Nusa Tenggara timur, ke Kota Endeh, Sambas di Kalimantan Barat, Kabupaten Serang dan Kabupaten Bogor, dan itu diserahkan secara gratis,” ujar Abdullah Farid.

Untuk mendapatkan alat tersebut, Farid menjelaskan bahwa pihaknya memiliki sistem kepercayaan. Ia memakai sistem donasi untuk subsidi silang, bukan jual beli. Farid mencontohkan ketika ada orang yang berdonasi, orang tersebut akan memberikan donasi sejumlah uang senilai dengan dua unit SRG. Namun orang yang berdonasi tersebut hanya akan mendapatkan satu unit SRG. Sedangkan satu unit lainnya akan diserahkan kepada anak yang kurang mampu.

Farid memulai riset SRG tersebut dari tahun 2018, namun karena dananya swadaya baru fix jadi di tahun 2019. Setelah SRG jadi Ia bahkan sudah mempresentasikan SRG di sebuah seminar di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Ia menyampaikan kedepan, akan melakukan modifikasi lagi, dan tidak lagi menggunakan remote, melainkan menggunakan suara anak, tinggal menyebutkan tema apa yang ingin dipelajari.

Menanggapi temuan, Abdullah Farid tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tegal, Akhmad Farkhan menyampaikan bahwa SRG ini merupakan lilin ditengah mati lampu, ketika anak-anak bermasalah dengan kuota, akses internet yang susah, dan SRG ini hadir tanpa adanya kebutuhan kuota dan jaringan internet.

“SRG merupakan lilin di tengah mati lampu, artinya ketika anak-anak bermasalah dengan kuota, akses internet yang susah, dan SRG ini hadir tanpa adanya kebutuhan kuota dan jaringan internet,” kata Farkhan.

Menurutnya ini merupakan karya dari orang Tegal, dan patut dibanggakan dengan hasil temuan Abdullah Farid tersebut.

Ia menambahkan SRG ini sudah disampaikan baik ke Kantor Wilayah Kementerian Agama dan Kementerian Agama Pusat, dan menurut Farkhan tanggapannya bagus terhadap temuan Abdullah Farid terebut.

Red/Sholeh
Lebih baru Lebih lama