Dorong Ekonomi Sirkular : Yok Yok Ayok Daur Ulang Sampah


Tegal, Jendelaindo - Setelah peresmian pusat daur ulang sampah yang berlokasi di kelurahan Mintaragen pada 24 Februari lalu, Pemerintah Kota Tegal bersama dengan PT Trinseo Materials Indonesia dan PT.Kemasan konsisten menjalankan program “Yok Yok Ayok Daur Ulang!”


yang didukung oleh berbagai organisasi, seperti Asosiasi Industri Olefin, Aromatik & Plastik Indonesia (INAPLAS); Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI); Ikatan Pemulung Indonesia (IPI); dan Responsible Care® Indonesia.Melalui webinar bertajuk “Upaya Kelola Sampah dan Daur Ulang Kota Tegal


Dalam Mendorong Ekonomi Sirkular” yang dipandu oleh Hanggara Sukandar, Sustainability Director dari Responsible Care® Indonesia, bahasan kali ini berfokus pada upaya pengelolaan dan daur ulang sampah dalam mendorong ekonomi sirkular.


Kali ini Pemerintah Kota Tegal mengajak masyarakat dan pemerintah di kota-kota lain untuk turut serta menjalankan program pengelolaan dan daur ulang sampah, terutama sampah plastik.


Volume sampah yang tidak terkelola dengan baik dan banyaknya sampah yang berakhir di TPA masih menjadi permasalahan yang disebabkan oleh belum adanya optimalisasi dalam mengelola dan mendaur ulang sampah plastik di negeri ini Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Pemerintah Kota Tegal, tercatat bahwa setiap hari warga Kota Tegal menghasilkan hingga 250 ton sampah, di mana 30% diantaranya merupakan sampah plastik, sebesar 214 ton total timbunan sampah, serta 16 ton volume sampah anorganik. Dari jumlah tersebut, yang saat ini mampu dikirim ke industri daur ulang baru 10% dan sisanya berakhir di TPA.


Muhammad Jumadi selaku Wakil Walikota Tegal, menyampaikan bahwa dengan adanya pusat daur ulang sampah diharapkan akan membantu mengurangi besarnya volume sampah, terutama sampah plastik ke TPA, dan juga mampu berperan dalam mencapai ekonomi sirkular.


“Saat ini program pengelolaan dan daur ulang sampah sudah dilaksanakan di TPS 3R kelurahan Mintaragen Untuk kedepannya, Kota Tegal menargetkan program ini juga dapat dilaksanakan pada tingkat rumah tangga, sehingga diharapkan hanya sampah-sampah residu yang tidak dapat diolah saja yang akan berakhir di TPA. Melalui edukasi yang tidak pernah putus, kami memaparkan kegiatan-kegiatan daur ulang sampah, misalnya cara mendaur ulang sampah plastik menjadi kerajinan tangan.”


Masih banyak anggapan yang beredar di masyarakat bahwa produk ramah lingkungan merupakan produk yang dapat terurai secara alami, sehingga hal ini menggiring masyarakat berasumsi bahwa produk yang tidak dapat terurai secara alami merupakan produk yang tidak ramah lingkungan.jelas Jumadi.


Menanggapi permasalahan tersebut, Wahyudi Sulistya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) menjelaskan, “masyarakat tidak bisa mengandalkan alam atau lingkungan untuk mengurai sampah plastik. Mulai dari diri sendiri, bisa dari skala rumah tangga. 


Pada kondisi seperti sekarang, masyarakat harus belajar untuk mengelola, memilah-milah jenis sampah dan juga mendaur ulang sampah plastik untuk turut mendorong ekonomi sirkular.”


Mendukung pernyataan Wahyudi, Hery Yusamandra, Program Manajer dari Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), menjelaskan bahwa saat ini teknologi sudah semakin canggih dengan ketersediaan mesin yang dapat mengolah sampah plastik dalam waktu yang singkat menjadi produk baru, misalnya briket melalui mesin predator sampah yang sudah dijalankan oleh pusat daur ulang sampah plastik Kota Tegal.


Responsible Care® Indonesia (RCI), sebagai salah satu organisasi pendukung program “Yok Yok Ayok Daur Ulang!”yang diwakili oleh Edi Rivai, Chairman dari Responsible Care® Indonesia memaparkan tujuan ekonomi sirkular melalui upaya pengelolaan dan daur ulang sampah.Ekonomi sirkular bertujuan untuk memaksimalkan siklus


Wartawan : Teguh Watu

Lebih baru Lebih lama